Bismillah...
Flashback sejenak ke waktu - waktu yang telah lalu...
Sebuah masa dimana segala kenangan tertinggal....
Kala itu senyum...bahagia....tawa...sedih....cemas....kecewa....bahkan rapuh sekalipun
Bukan karna penyesalan yang mendalam, tapi lebih sebagai renungan untuk bangkit, lebih kuat...lebih bijak...
Karna masih ada episode selanjutnya yang..Wallahu alam bishawab......
Now back to reality....
Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidup. Sampai akhirnya tersadar dengan sendirinya kini sudah memasuki juni 2014. Yup, 2014. Tak hentinya bersyukur masih diberi kesehatan dan umur oleh Allah SWT. Dan tinggal beberapa jam lagi untuk menyambut ramadhan tahun ini, alhamdulillah.
Ramadhan tahun ini tentu saja berbeda dibandingkan yang sudah - sudah. Saya katakan berbeda karna tanpa kehadiran sosok papah tercinta. Saya akui ada sebongkah kesedihan yang begitu dalam manakala teringat sosok beliau. Terlebih ketika memandang potret beliau yang masih sehat nan segar bugar yang masih terpampang di sudut rumah kami. Betapa pun saya berusaha sekuat tenaga memohon kepada sang Khalik untuk memberi kesembuhan kepada beliau, Allah Maha mengetahui yang terbaik untuk hambaNya. Walaupun kami sekeluarga selalu berdoa penuh harap menginginkan yang terbaik untuk kesembuhan papah akan tetapi Allah sebagai pemilik jiwa raga ini lebih dan lebih menyayangi papah. Hingga sms dari adik yang saya terima siang itu tepatnya tanggal 5 juni 2014 yang mengabarkan berpulangnya beliau kepada pangkuan Illahi. Ya Allah ampuni saya hambaMu yang rendah ini, karna bahkan ketika menulis hal ini pun saya masih begitu terpukul dan sedih. Inilah patah hati yang sebenarnya...patah hati bukan karena cinta terhadap lawan jenis namun ketika saya harus kehilangan sosok orang tua yang dikasihi dan dicintai.
Ramadhan kali ini...
Tidak ada lagi sosoknya yang memimpin doa berbuka puasa diruang makan, tidak terdengar lagi bunyi seruput teh yang masih panas dicangkir kesayangan beliau, tidak akan ada lagi candaan beliau yang ketika menikmati hidangan berbuka puasa bersama, tidak terdengar lagi suaranya yang merdu mengaji sembari menunggu waktu berbuka, tidak ada lagi sosoknya yang akan menjemput pulang mengajar dan seperti biasa papah akan mengajak saya bergerilya di pasar ramadhan untuk membeli masakan atau jajanan pasar kesukaan nyokap. Nyata tidak akan terdengar lagi suaranya yang menggelegar serta tawanya yang khas di ruang keluarga. Betul - betul merindukan sosok beliau.
Saya, mama dan adik - adik yang ditinggalkan tentu harus tetap semangat melanjutkan hidup dengan kuat dan tegar. Menjalani hidup dengan sebaik - baiknya karena umur tidak ada yang mengetahui selain yang Maha kuasa. Dan kenangan akan sosok alm papah masih tersimpan rapi di lubuk hati yang terdalam. Senantiasa mendoakan beliau tak lain adalah bentuk kerinduan saya akan sosok papah. Semoga Alah SWT kelak mempertemukan saya kembali dengan mama..papah...dan adik - adik saya ketika masa itu tiba...amin.
Dan sekali lagi saya bersyukur karna alm papah masih sempat melihat saya berhijab sesuai dengan keinginan beliau. Tanpa paksaan...bukan pula terbawa arus trend.....atau sekedar gengsi, sungguh panggilan hati yang begitu kuat. Nyata saya melihat senyum bahagia dan penuh syukur beliau saat itu. Kalimat terakhir yang saya ingat sebelum papah masuk ke ruang operasi adalah sebentuk kalimat yang sederhana namun bermakna dalam dan begitu amanah untuk saya pribadi. Bukan kata atau perintah untuk segera menikah seperti yang selalu dilontarkan oleh orang - orang, namun permintaan papah begitu sederhana yakni menjadi anak sholeh. Insya Allah.....
Papah dalam deskripsi pribadi saya adalah sosok yang keras dan disiplin, terutama bila menyangkut pendidikan dan ibadah. Tapi papah bukanlah sosok yang memaksakan kehendak kepada kami semua. Kalaupun papah otoriter dan mau tidak mau saya dan adik - adik harus mengkuti kehendak beliau, sekali lagi saya bersyukur memiliki orang tua yang keras karna selamatlah kami dari hal - hal yang bisa menyakitkan hati ataupun harga diri orang tua kami. Tidak ada yang gratis di dunia, kesuksesan sejati hanya bisa diraih melalui kerja keras...adalah salah satu ajaran papah yang melekat kuat di benak hingga kini yang kelak akan saya turunkan pula ke anak - anak saya nanti.
Kerja keras...jangan berhenti sebelum orang lain berhenti.
Saya yang harus belajar keras menghadapi ebtanas ketika SD hingga subuh pun dipaksa bangun dan harus menahan kantuk namun terbayar dengan lolosnya saya untuk masuk ke SMP negeri sekaligus favorit sesuai harapan papah. Saya yang kala itu sempat sempoyongan bersaing dengan anak - anak lainnya yang super duper jenius akhirnya bisa membuktikan ke papah berhasil 10 besar dari peringkat yang nyaris - nyaris terakhir :D haha...bahkan saya sempat tidak ditegur oleh beliau lho..wajar memang karna perasaan kecewa. Saya yang lagi - lagi sempoyongan mengikuti pelajaran di SMU *entah pengaruh guru yang boring..malas atau keterbatasan otak* yang jelas karna formula kerja keras seperti ajaran papah, saya yang betul - betul disepelekan pada akhirnya berhasil masuk 10 besar lulusan ujian nasional terbaik khusus jurusan IPS di sekolah.
Dan kerja keras itu rupanya belum usai, di unmul saya harus bisa membuktikan kepada papah dengan IP yang bagus sekaligus bisa menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu. Ada suatu waktu saya berpikir betapa lelahnya kalau harus terus menerus seperti ini, bahkan sedikit protes kepada beliau karna ada kalanya saya betul - betul ingin bersantai dalam hidup bukan terus dituntut sempurna sehingga harus selalu dan selalu berkerja keras. Bahkan ketika saya selesai kuliah pun saya harus berpacu dengan waktu untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu. Bukan main bangganya beliau ketika melihat nama saya terpampang jelas di urutan no 1 yang dinyatakan lulus pegawai negeri untuk fungsional yang tentunya saya peroleh tidak secara gratis atau sekedar turun dari langit. Namun dengan belajar, belajar dan belajar selain karena bantuan Allah SWT dan doa orang tua yang tidak pernah putus.
Saat itulah saya begitu memaknai kalimat kerja keras dan tidak lupa berdoa serta berserah diri kepada sang Khalik.
Ada banyak ribuan kenangan lainnya dengan alm papah.....
Kenangan ketika saya mendadak jadi anak tunggal di rumah *adik - adik masih kuliah di jogja* dan begitu dimanjakan oleh papah..beliau tidak pernah absen untuk mengantar jemput saya mengajar ketika rumah kami masih di daerah telindung *sampai dijuluki anak papah oleh rekan - rekan guru disekolah* Dan karna hanya bertiga dirumah, beliau kerap mengajak saya dan nyokap pergi jjs ke mall...berbelanja keperluan di supermarket, dan kuliner ke berbagai resto atau tempat makan kesukaan beliau. Hal lain yang paling saya ingat adalah papah selalu dan tidak pernah bosan memutar ulang musik - musik dari musisi kesukaannya di mobil seperti afghan, marcel, dan audy :D
Kenangan itu....manakala saya selalu bersitegang setiap belajar mobil dengan papah sebagai intruktur di samping saya. Sesi belajar kami selalu diwarnai dengan jerit histeria dari saya dan papah :D Tapi jujur, karna papah juga saya dan adik - adik jadi lumayan pintar dalam bidang studi bahasa inggris.Waktu kami smp papah mewajibkan kami semua mengikuti kursus bahasa inggris di salah salah satu lembaga kursus yang cukup punya nama di balikpapan. Awalnya jelas ogah - ogahan ya tapi manfaatnya itu abadi sampe sekarang. Dirumah kadang saya dan adik - adik berlatih conversation dengan papah. oh ya, waktu saya masih duduk di sekolah dasar, saya juga sering bertanding main game nitendo seperti bilyard, racing juga mortal combat dengan beliau, lucunya, selalu diakhiri dengan muka cemberut saya karna sering kalah oleh papah saya yang jago banget.
Dan papah itu paling suka fruit pie dan pie apel buatan saya, kata beliau pie buatan saya lebih renyah dan tidak layat serta sempat memuji blackforest cake buatan saya yang menurut beliau teksturnya lembut dengan manis yang pas. Beliau juga sangat menyukai penganan lempeng pisang dengan rasa yang sedikit gurih. Papah memang tukang kritik sempurna urutan pertama dari nyokap untuk semua cakes dan masakan yang saya buat. Too bad, ketika sakit papah sudah lumayan parah saya sengaja tidak memperbolehkan papah makan atau sekedar mencicipi kue buatan saya yang kebetulan di goreng atau sarat gula mengingat penyakit papah yakni asam lambung terbilang parah. Demi menjaga kesehatan papah agar sembuh sediakala sehingga saya larang beliau dan hanya memperbolehkan makan makanan yang sehat yang dalam versi papah taste bad. Ada setitik penyesalan juga dihati karena sudah melarang beliau.
Kenangan indah lainnya yakni dalam moment yang paling saya tunggu yakni ultah saya karna papah selalu memberikan kejutan kue ulang tahun berupa black forest berukuran besar untuk kami semua. Hanya perayaan sederhana dalam keluarga kami seperti berdoa sebagai bentuk syukur dan makan kue bersama juga tidak lupa ucapan selamat dan peluk cium penuh kasih dari papah...sederhana memang, namun menjadi serpihan kenangan yang begitu manis dalam ingatan.
Bahkan ketika saya merasa kecewa perihal mutasi yang begitu mendadak dan di tengah ajaran berlangsung, respon papah yang kala itu saya anggap datar dan begitu tidak sensitif dengan keadaan saya. Namun saya sadar, papah sebenarnya menyemangati saya..mengajari saya untuk ikhlas...mengajari saya untuk senantiasa untuk merenung dan mengintropeksi diri bukannya terus mengeluh. Papah memang paling tidak suka kalau anak - anaknya mengeluh, karena menurut beliau mengeluh adalah wujud tidak bersyukurnya kita akan nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT, mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan persoalah. And you're right dad, kenyataanya sekarang adalah betapa saya sangat bersyukur karena ini adalah KehendakNya dan Insya Allah tentunya ada hikmah positif dibalik semuanya. I wish you could see dad betapa excitednya saya kini mempersiapkan diri untuk mengajar di sekolah baru nanti.
Thanks for everything dady....thanks for being a great dady in this world....we always love you dad....
and see you there...